Di hari yang masih muda, udara menawarkan dingin rupa dunia. Kicau burung di dahan kamboja bahkan tak semerdu biasanya. Sudah segelas kopi habis kureguk tadi, dan remah roti bakar tanpa isi mewujud abstrak di atas piring. Sungguh pagi yang ketus. Tiba-tiba aku membayangkan riuh suasana pasar yang becek dan kotor. Hujan semalam meninggalkan genangan air di jalan yang kikis aspalnya.
Seorang ibu sibuk menawar harga ayam potong yang tiba-tiba melangit. Ada nada kecewa dan sedikit marah di intonasi suaranya yang cempreng. Di sudut lain seorang bocah lelaki menangis minta dibelikan mainan pistol buatan Cina dari bahan plastik yang tidak terjamin keamanannya. Lalu sang ibu mengomel sambil menarik tangan anaknya. Apakah ini wajah kesederhanaan? jika iya, apakah ia butuh nama?
Dari pasar yang becek dan kotor, pikiranku melompat ke masa kanak-kanak. Satu masa dalam periode hidupku yang kupikir sangat istimewa. Tumbuh di lingkungan sederhana. Anak perempuan satu-satunya yang sangat disayang tapi tidak dimanja. Seingatku, tidak pernah sekalipun seumur hidupku, Orangtuaku membelikanku boneka, mainan, sepeda. Tidak pernah! tapi kondisi itu justru memancing kreatifitasku. Sungguh sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal dari orangtuaku, khususnya Bapak.
Akan bersambung, sepertinya.
_lebahkecil_