seorang sahabat bertanya padaku setelah dia membaca catatanku yang berjudul :
ELEGI MUG, KOPI, DAN MITOS PROMOSI.
sahabat :
elegi itu apa?
aku pernah dengar, tapi sepertinya otakku mulai mengeras untuk mengingat itu lagi.
key bee :
elegi itu syair atau nyanyian kesedihan atau dukacita.
apa yang kamu tangkap dari cerita ini?
sahabat :
mungkin disini seolah permasalahan utamanya di kamu dan tugasmu.
cuma sebarnya fokus utamanya ya tentang mitos yang dibuat produsen kopi di iklan-iklan gitu.
key bee :
hmm..ada benarnya juga. tapi pesan dari isi cerita ini sebenarnya lebih luas dari itu.
1. sebenarnya tanpa kita sadari, selalu ada dialog yang lahir meski kita dalam kesendirian. dialog dengan lingkungan atau benda sekitar kita, dialog dengan tubuh, otak, logika, hati kita.
karena menurutku, segala sesuatu yang memiliki masa/usia adalah bernyawa.
mug besar itu juga bernyawa, karena dia memiliki masa/usia (masa di produksi/tanggal lahir dan masa dia pecah atau rusak/tanggal mati) dsb.
mug itu bukan sekedar barang yang berfungsi untuk kita minum. dia yang terbiasa dengan air putih yang sejuk lalu tiba-tiba dia dipaksa menerima kopi putih yang panas.
analogikan saja dengan diri kita. bagaimana perasaan kita ketika kita dipaksa melakukan sesuatu yang tidak biasa kita lakukan, tapi terpaksa kita iyakan karena kita tidak bisa menolak?
nah..ada elegi dari mug disini.
lalu kopi putih..dia memang untuk dinikmati. tapi dia dipaksa tampil instan oleh produsen kopi yang mungkin justru mengurangi kualitas dirinya. lalu lahir lagi elegi dari kopi.
kemudian mitos promosi..dia sengaja direkayasa dan dikarang oleh entah siapa hingga menjadi seperti kebenaran yang tak teruji di masyarakat. dia dipaksa berbohong. satu lagi elegi yang lahir.
2. dialog-dialog yang muncul dari mug, aku dan beberapa bagian dari tubuhku (mata, logika, otak) adalah komunikasi satu arah yang jarang kita sadari. bukan cuma pikiran, hati, tapi juga imajinasi disini.
bahkan dalam diam kita bergerak. bahwa hidup itu adalah pilihan.
disini, aku memilih tuk memaksa mug dan menikmati kenikmatan instan dengan percaya mitos kopi bisa menghilangkan kantuk. meski hasil akhir aku jadi kecewa. tapi itulah pilihan.
3. tagline dari cerita ini sebenarnya..
"tidak ada kepuasan sejati yang lahir dari cara instan."
meski ini hal yang kita harapkan.
cerita ini general dan bisa masuk ke masalah yang lainnya. dalam hal bermusik, misalnya.
analogikan saja sendiri, aku yakin kamu mengerti.
4. terakhir..jangan lupa belajar dari kecerdasan orang-orang pintar seperti produsen kopi.
tapi bukan dalam "membohongi" konsumen lho ya..
salam..