09/11/14

Belum Ada Judul

Di hari yang masih muda, udara menawarkan dingin rupa dunia. Kicau burung di dahan kamboja bahkan tak semerdu biasanya. Sudah segelas kopi habis kureguk tadi, dan remah roti bakar tanpa isi mewujud abstrak di atas piring. Sungguh pagi yang ketus. Tiba-tiba aku membayangkan riuh suasana pasar yang becek dan kotor. Hujan semalam meninggalkan genangan air di jalan yang kikis aspalnya.
Seorang ibu sibuk menawar harga ayam potong yang tiba-tiba melangit. Ada nada kecewa dan sedikit marah di intonasi suaranya yang cempreng. Di sudut lain seorang bocah lelaki menangis minta dibelikan mainan pistol buatan Cina dari bahan plastik yang tidak terjamin keamanannya. Lalu sang ibu mengomel sambil menarik tangan anaknya. Apakah ini wajah kesederhanaan? jika iya, apakah ia butuh nama?

Dari pasar yang becek dan kotor, pikiranku melompat ke masa kanak-kanak. Satu masa dalam periode hidupku yang kupikir sangat istimewa. Tumbuh di lingkungan sederhana. Anak perempuan satu-satunya yang sangat disayang tapi tidak dimanja. Seingatku, tidak pernah sekalipun seumur hidupku, Orangtuaku membelikanku boneka, mainan, sepeda. Tidak pernah! tapi kondisi itu justru memancing kreatifitasku. Sungguh sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal dari orangtuaku, khususnya Bapak.


Akan bersambung, sepertinya.


_lebahkecil_


23/10/14

Perempuan Penunggu Waktu

Penggalan..
Paragraf 2



Tiba-tiba dingin menyeruak masuk dari balik jendela kamar yang sedikit terbuka, membangunkan bulu-bulu halus di tangan dan tengkukku. Tiba-tiba juga aku rindu pada semua hal yang ada di seberang pulau ini. di atas semua itu, aku rindu segala tentangmu. Seseorang yang belum lama ku kenal tapi begitu lekat dalam ingatan. Semesta maya begitu mewarnai kebersamaan semu kita. Ikatan yang lahir dari garis imajiner terliarku. Begitu telanjang aku pada bayang mayamu. Apa yang membuat semua itu saja aku tak tahu. Seperti kenapa kamu? Atau bagaimana bisa? Ahh..terlalu membingungkan jika harus ku terka-terka apa alasan dari semua peristiwa maya kita. Rindu ini menyeruak lagi. Kali ini lebih kuat dan membabibuta. Cukup mengacaukan pikiranku yang sudah kacau sebelumnya. Kekacauan yang menggairahkan. Kekacauan yang menggelisah sekaligus membahagiakan di saat yang bersamaan. Selalu lahir kerinduan dari tiap debat kecil kita yang bahkan entah karena apa.



_lebahkecil_

Rindu Ayah

Siang pecah
Langit menjingga
Tapi rindu tak jua susut
Tiba-tiba aku berharap
Ia mampu membelah diri
Lalu menerbangkan sebelah sayapnya
Tuk hinggap di pohon kamboja
Di sebelah pusara lelaki tercinta
Lalu menuturkan segala cerita
Yang kubisikkan di telinganya
Andai doa sebegitu ajaib
Merubah segalanya dalam satu putaran tongkat
Bim Salabim
Abra Kadabra

Tapi kupikir doa bukanlah sulap pun sihir
Jadi apa yang terjadi,
Terjadilah!
Aku dan rinduku akan baik-baik saja,
Ku kira.




_lebahkecil_
23 Oktober 2014

Kata Merah Muda

Di ujung jari, kata mewarnai dirinya dengan merah muda
Warna yang jatuh cinta pada sebuah nama
Rindu ini berdenting
Serupa Bach yang menjamahi piano
Lalu kawin dengannya
Tak ada pandangan mata
Hanya ada jemari yang menari
Dan hati yang berdebar




_lebahkecil_
20 oktober 2014

17/10/14

Menunduk

Kamu lihat aspal itu?
Aspal di bawah kakimu
Aspal yang kamu injak itu
Aspal yang membuat mulus laju kendaraanmu

Hitam Ia
Memuai terbakar panas
Remuk tertindas
Dingin kehujanan

Apa kabarnya saat ini?
Saat kakimu menginjaknya
Berlari di atasnya
Atau bahkan meludahinya

Mungkin serupa itu wajah lukaku
Yang kau tampar setelah kau sayat
Dan kau taburi garam
Namun itu hanya andaian

Tak,
Tak sedramatis itu
Ada senyum manis di lukaku

Aku hanya ingin kau melihat
Bukan hanya ke depan, ke belakang,
ke samping kiri dan kanan
Tapi juga ke bawah

Menunduk.


_lebahkecil_
17 Oktober 2014

Apapun Binasa

Merayakan kehilangan bukanlah kesedihan, kupikir
Ada manis yang perlu dicecap juga
Mensyukuri bahwa ada yang lebih menyayangi

Ilahi

Apa yang lebih membahagiakan dari itu?
Sapa hangat pujaan?
Dering telp dambaan?
Pesan pendek kesukaan?
Atau apa?

Maka biarlah kesedihan menjelma rupa bahagia
Biarlah kehilangan menjadi pengingat
Bahwa apapun akan binasa..


_lebahkecil_

Hey

Hey..
Kamu dengar kumbang itu?
Suaranya gaduh
Aku curiga dia sedang menyeru
Kekasihnya, atau anaknya, atau induknya, atau entah..
Bulan terlalu purnama tuk diacuhkan
Langit terlihat cerah dengan hitamnya
Apa gerangan yang tengah dirayakan malam?
Kehilangan atau kah kebebasan?



_lebahkecil_

15/10/14

Rindu III

Kepada kamu pemilik rindu;

Kamu tahu?

Rinduku ini
Lebih lacur dari gigolo
Lebih liar dari penari erotis
Lebih binal dari PSK kelas trotoar


Rinduku ini bajingan
Yang siap menebas jarak dan waktu tuk bertemu
Rinduku ini hutang

Yang harus dibayar lunas dengan desahan
Rinduku ini rindu

Dia lacur
Dia liar
Dia binal
Dia bajingan

Yang sangat ingin melunasi hutang.


_lebahkecil_

Rindu II

Kamu lihat..

Rindu terkapar di pinggir jalan
Yatim mencari tuannya
Lunglai ia
Remuk redam tubuhnya
Hingga kain kafan menjadi keinginannya


"Bungkus saja aku dengan itu
Aku yatim aku piatu

Lempar aku ke comberan
Hingga membusuk bauku
Sampai rusak wujudku

Aku tak apa
Biar semua tahu
Aku rindu yang mati
Mencari tuanku".


_lebahkecil_

Rindu I

Kepadamu yang kumuarakan segala puisi;

Ini hatiku

Kamu lihat retakan dan tambalan yang menumpuk di situ?
Serapuh itu
Tapi tetap dipakunya namamu 

Lekat
Erat
Mengarat

Puisi ini bukan puisi
Jika berkenan
Lantunkanlah pelan-pelan
Suara falsmu akan terdengar merdu, sepertinya

Ingat..
Pelan-pelan saja

Resapi
Dan rasakan rembesan darah serupa airmata
Menetes
Mencari makna
Mengeja luka

Bukan..
Bukan luka siapa-siapa

Nikmati saja,
Ya?!


_lebahkecil_

Refleksi Gelap

Dalam gelap, di sudut pekat,
Aku; adalah segala yang tak tampak

Jangan ragukan layar
Jangan menuduh rindu

Aku
Padaku
Melumat siksa
dari perkara
cinta yang tak terbaca.


_lebahkecil_

15 September

Tentang malam yang menyulam getar cinta..

Pada jarak kiloan meter
Di 15 Sepetember;

Dua pasang mata minus itu saling mendamba
Mengait jari dalam dimensi 
Imajinasi, berjanji
Tuk saling menjaga
dan menyayangi (lagi)

Hari sesak dengan rindu
Rindu sesak menggebu-gebu
Semoga saja tak lekas berlalu

Dua pasang mata minus itu 
Kita; Aku dan Kamu


_lebahkecil_

Yatim

Desah ini yatim..tanpa adamu
Di lubang surga yang acap kujaga
Darinya meleleh sperma serupa airmata
Engkau di mana?
Desah ini menagih senggama


_lebahkecil_

Cukupkan saja di situ..

Di punggung senja yang renta,
Aku melukis kisah tentang kita..

Di hotel murah kelas kamboja;

Jangan nyalakan lampu itu!
Cahayanya mengingatkanku pada kandang anak ayam
Silau
Aku tidak ingin kau lihat garis selulit yang melingkar di pahaku

Cukupkan saja di situ..

Di garis siluet yang melayang di dinding kamar
Samar..
Sampai hilang dalam pejam,
dan erang kenikmatan.


_lebahkecil_

10/10/14

Dear Life..



menyapa pagi yang menua bersamaku. beriringan kami memasuki masa dimana cermin menjadi musuh nyata. menikmati era kedewasaan yang ternyata terasa sangat membingungkan dan sedikit membosankan. sesekali aku dan pagi berbincang tentang menu masakan hari ini, atau saling mencibir lipatan lemak yang asik diam di perut, bokong, dan paha kami, sambil menyecap teh hijau tawar hangat yang kami 'yakini' dapat sedikit mengikis tumpukan lemak. sering juga aku dan pagi berdiskusi serius tentang 'partner of life' dan 'calon anak' yang akan kami lahirkan kelak, sambil asik menikmati Anthony Hamilton bernyanyi 'Dear Life'.

lagi..aku senyumi pagi yang bijaksana. bersamanya aku menua..


_lebahkecil_

 

09/10/14

Minggu Itu Ini, fariz..

sudah lama kuberpikir bahwa semua hari adalah minggu. tapi ternyata bukan.
minggu itu adalah 28 september 2014 pukul 03:00 wib. ia lahir di stasiun kota jakarta..
turun dari kereta gaya baru malam yang ditarik dari gubeng surabaya.

minggu itu adalah saat kamu datang, farizz.
minggu itu adalah saat pandangan mata kita bertemu. saat kukecup punggung tanganmu. saat kutemani kamu makan soto tangkar di kota tua. minggu itu adalah saat taxi yang membawa kita kena razia yusdisia.

hahahahaaa..

minggu itu adalah bau kecut badanmu, wajah letihmu, dan mata kita yang mengantuk tapi tetap saja terjaga.

minggu itu adalah sarapan pertama kita.
adalah jalan-jalan kita ke bina ria (ancol).
adalah pertama kalinya kamu naik bus trans jakarta. minggu itu adalah cincin dengan ukiran inisial kita..

--------------------------------------------- kemudian

aku adalah tangan yang menggandengmu saat menyeberang jalan..dan kamu adalah tangan yang mengelus kepalaku pelan..mengusap pipiku..menggandeng pundakku..menggenggam tanganku.

kita adalah kamu yang tak tahan dengan bawelku. adalah aku yang tak suka dengan plinplanmu.

kita adalah kamu yang butuh tegasku, adalah aku yang butuh sabarmu.

kita adalah sebutuh itu. sesederhana itu.

--------------------------------------------- kemudian

i don't like monday!!

kamu tahu kenapa?

karena dia membawamu pulang kembali ke kandungan.

--------------------------------------------- kemudian

aku benci 30 S!!

bukan soal tragedi PKI.
tapi soal malam yang putus dan kutangisi.

03 oktober ----------------- kamu ingin kembali (lagi)
04 oktober ----------------- Aku menerimamu (lagi)


~ lebahkecil ~


Dapur



Aku di sini saja, menunggumu
Di dapur yang kita sepakati sebagai ruang terjujur di rumah ini
Ruang yang kita tahu tentang ke-apa adanya
Bahwa asin adalah asin, pedas adalah pedas, manis adalah manis, gurih adalah gurih
Yang berbeda tapi sangat bisa disatukan
Ruang yang memungkinkanku meramu puluhan menu cinta
Yang membuatmu jatuh cinta
Yang di dalamnya kita bisa bercinta


_lebahkecil_

 

Dari Balik Jendela Bertirai Merah



Sore tadi selepas adzan
Matahari bergeser dari beranda tempatmu berada
Menyisakan sedikit bayangan di belakang tubuhmu yang berjalan
Masuk ke dalam rumah meninggalkan segelas kopi dan sebuah buku
Di atas bangku panjang dari rotan
Sementara di seberang rumah dari balik jendela bertirai merah
Aku mengintipmu dengan senyuman yang merekah
Tanpa malu kubaca setiap bahasa yang keluar dari gerak tubuhmu
Yang biasa saja tapi terlihat sempurna
Setidaknya di mataku
Sepasang mata minus yang selalu mengagumimu
Sedari dulu

Besok..seperti sore ini
Aku ingin mengintipmu lagi
Dari balik jendela bertirai merah ini


_lebahkecil_