Di hari yang masih muda, udara menawarkan dingin rupa dunia. Kicau burung di dahan kamboja bahkan tak semerdu biasanya. Sudah segelas kopi habis kureguk tadi, dan remah roti bakar tanpa isi mewujud abstrak di atas piring. Sungguh pagi yang ketus. Tiba-tiba aku membayangkan riuh suasana pasar yang becek dan kotor. Hujan semalam meninggalkan genangan air di jalan yang kikis aspalnya.
Seorang ibu sibuk menawar harga ayam potong yang tiba-tiba melangit. Ada nada kecewa dan sedikit marah di intonasi suaranya yang cempreng. Di sudut lain seorang bocah lelaki menangis minta dibelikan mainan pistol buatan Cina dari bahan plastik yang tidak terjamin keamanannya. Lalu sang ibu mengomel sambil menarik tangan anaknya. Apakah ini wajah kesederhanaan? jika iya, apakah ia butuh nama?
Dari pasar yang becek dan kotor, pikiranku melompat ke masa kanak-kanak. Satu masa dalam periode hidupku yang kupikir sangat istimewa. Tumbuh di lingkungan sederhana. Anak perempuan satu-satunya yang sangat disayang tapi tidak dimanja. Seingatku, tidak pernah sekalipun seumur hidupku, Orangtuaku membelikanku boneka, mainan, sepeda. Tidak pernah! tapi kondisi itu justru memancing kreatifitasku. Sungguh sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal dari orangtuaku, khususnya Bapak.
Akan bersambung, sepertinya.
_lebahkecil_
09/11/14
23/10/14
Perempuan Penunggu Waktu
Penggalan..
Paragraf 2
Paragraf 2
Tiba-tiba dingin menyeruak masuk dari balik jendela kamar
yang sedikit terbuka, membangunkan bulu-bulu halus di tangan dan tengkukku.
Tiba-tiba juga aku rindu pada semua hal yang ada di seberang pulau ini. di atas
semua itu, aku rindu segala tentangmu. Seseorang yang belum lama ku kenal tapi
begitu lekat dalam ingatan. Semesta maya begitu mewarnai kebersamaan semu kita.
Ikatan yang lahir dari garis imajiner terliarku. Begitu telanjang aku pada bayang
mayamu. Apa yang membuat semua itu saja aku tak tahu. Seperti kenapa kamu? Atau
bagaimana bisa? Ahh..terlalu membingungkan jika harus ku terka-terka apa alasan
dari semua peristiwa maya kita. Rindu ini menyeruak lagi. Kali ini lebih kuat
dan membabibuta. Cukup mengacaukan pikiranku yang sudah kacau sebelumnya.
Kekacauan yang menggairahkan. Kekacauan yang menggelisah sekaligus
membahagiakan di saat yang bersamaan. Selalu lahir kerinduan dari tiap debat kecil
kita yang bahkan entah karena apa.
_lebahkecil_
Rindu Ayah
Siang pecah
Langit menjingga
Tapi rindu tak jua susut
Tiba-tiba aku berharap
Ia mampu membelah diri
Lalu menerbangkan sebelah sayapnya
Tuk hinggap di pohon kamboja
Di sebelah pusara lelaki tercinta
Lalu menuturkan segala cerita
Yang kubisikkan di telinganya
Andai doa sebegitu ajaib
Merubah segalanya dalam satu putaran tongkat
Bim Salabim
Abra Kadabra
Tapi kupikir doa bukanlah sulap pun sihir
Jadi apa yang terjadi,
Terjadilah!
Aku dan rinduku akan baik-baik saja,
Ku kira.
Langit menjingga
Tapi rindu tak jua susut
Tiba-tiba aku berharap
Ia mampu membelah diri
Lalu menerbangkan sebelah sayapnya
Tuk hinggap di pohon kamboja
Di sebelah pusara lelaki tercinta
Lalu menuturkan segala cerita
Yang kubisikkan di telinganya
Andai doa sebegitu ajaib
Merubah segalanya dalam satu putaran tongkat
Bim Salabim
Abra Kadabra
Tapi kupikir doa bukanlah sulap pun sihir
Jadi apa yang terjadi,
Terjadilah!
Aku dan rinduku akan baik-baik saja,
Ku kira.
_lebahkecil_
23 Oktober 2014
Kata Merah Muda
Di ujung jari, kata mewarnai dirinya dengan merah muda
Warna yang jatuh cinta pada sebuah nama
Rindu ini berdenting
Serupa Bach yang menjamahi piano
Lalu kawin dengannya
Tak ada pandangan mata
Hanya ada jemari yang menari
Dan hati yang berdebar
Warna yang jatuh cinta pada sebuah nama
Rindu ini berdenting
Serupa Bach yang menjamahi piano
Lalu kawin dengannya
Tak ada pandangan mata
Hanya ada jemari yang menari
Dan hati yang berdebar
_lebahkecil_
20 oktober 2014
20 oktober 2014
17/10/14
Menunduk
Kamu lihat
aspal itu?
Aspal di
bawah kakimu
Aspal yang
kamu injak itu
Aspal yang
membuat mulus laju kendaraanmu
Hitam Ia
Memuai
terbakar panas
Remuk
tertindas
Dingin
kehujanan
Apa kabarnya
saat ini?
Saat kakimu
menginjaknya
Berlari di
atasnya
Atau bahkan
meludahinya
Mungkin
serupa itu wajah lukaku
Yang kau
tampar setelah kau sayat
Dan kau
taburi garam
Namun itu
hanya andaian
Tak,
Tak
sedramatis itu
Ada senyum
manis di lukaku
Aku hanya
ingin kau melihat
Bukan hanya
ke depan, ke belakang,
ke samping
kiri dan kanan
Tapi juga ke
bawah
Menunduk.
_lebahkecil_
17 Oktober
2014
Apapun Binasa
Merayakan kehilangan bukanlah kesedihan, kupikir
Ada manis yang perlu dicecap juga
Mensyukuri bahwa ada yang lebih menyayangi
Ilahi
Ada manis yang perlu dicecap juga
Mensyukuri bahwa ada yang lebih menyayangi
Ilahi
Apa yang lebih membahagiakan dari itu?
Sapa hangat pujaan?
Dering telp dambaan?
Pesan pendek kesukaan?
Atau apa?
Maka biarlah kesedihan menjelma rupa bahagia
Biarlah kehilangan menjadi pengingat
Bahwa apapun akan binasa..
_lebahkecil_
Sapa hangat pujaan?
Dering telp dambaan?
Pesan pendek kesukaan?
Atau apa?
Maka biarlah kesedihan menjelma rupa bahagia
Biarlah kehilangan menjadi pengingat
Bahwa apapun akan binasa..
_lebahkecil_
Hey
Hey..
Kamu dengar kumbang itu?
Suaranya gaduh
Aku curiga dia sedang menyeru
Kekasihnya, atau anaknya, atau induknya, atau entah..
Bulan terlalu purnama tuk diacuhkan
Langit terlihat cerah dengan hitamnya
Apa gerangan yang tengah dirayakan malam?
Kehilangan atau kah kebebasan?
Kamu dengar kumbang itu?
Suaranya gaduh
Aku curiga dia sedang menyeru
Kekasihnya, atau anaknya, atau induknya, atau entah..
Bulan terlalu purnama tuk diacuhkan
Langit terlihat cerah dengan hitamnya
Apa gerangan yang tengah dirayakan malam?
Kehilangan atau kah kebebasan?
_lebahkecil_
15/10/14
Rindu III
Kepada kamu pemilik rindu;
Kamu tahu?
Rinduku ini
Lebih lacur dari gigolo
Lebih liar dari penari erotis
Lebih binal dari PSK kelas trotoar
Kamu tahu?
Rinduku ini
Lebih lacur dari gigolo
Lebih liar dari penari erotis
Lebih binal dari PSK kelas trotoar
Rinduku ini bajingan
Yang siap menebas jarak dan waktu tuk bertemu
Rinduku ini hutang
Yang harus dibayar lunas dengan desahan
Rinduku ini rindu
Dia lacur
Dia liar
Dia binal
Dia bajingan
Yang sangat ingin melunasi hutang.
_lebahkecil_
Yang siap menebas jarak dan waktu tuk bertemu
Rinduku ini hutang
Yang harus dibayar lunas dengan desahan
Rinduku ini rindu
Dia lacur
Dia liar
Dia binal
Dia bajingan
Yang sangat ingin melunasi hutang.
_lebahkecil_
Rindu II
Kamu lihat..
Rindu terkapar di pinggir jalan
Yatim mencari tuannya
Lunglai ia
Remuk redam tubuhnya
Hingga kain kafan menjadi keinginannya
Rindu terkapar di pinggir jalan
Yatim mencari tuannya
Lunglai ia
Remuk redam tubuhnya
Hingga kain kafan menjadi keinginannya
"Bungkus saja aku dengan itu
Aku yatim aku piatu
Lempar aku ke comberan
Hingga membusuk bauku
Sampai rusak wujudku
Aku tak apa
Biar semua tahu
Aku rindu yang mati
Mencari tuanku".
_lebahkecil_
Aku yatim aku piatu
Lempar aku ke comberan
Hingga membusuk bauku
Sampai rusak wujudku
Aku tak apa
Biar semua tahu
Aku rindu yang mati
Mencari tuanku".
_lebahkecil_
Rindu I
Kepadamu yang kumuarakan segala puisi;
Ini hatiku
Kamu lihat retakan dan tambalan yang menumpuk di situ?
Serapuh itu
Tapi tetap dipakunya namamu
Serapuh itu
Tapi tetap dipakunya namamu
Lekat
Erat
Mengarat
Puisi ini bukan puisi
Jika berkenan
Lantunkanlah pelan-pelan
Suara falsmu akan terdengar merdu, sepertinya
Ingat..
Pelan-pelan saja
Resapi
Dan rasakan rembesan darah serupa airmata
Menetes
Mencari makna
Mengeja luka
Bukan..
Bukan luka siapa-siapa
Nikmati saja,
Ya?!
_lebahkecil_
Erat
Mengarat
Puisi ini bukan puisi
Jika berkenan
Lantunkanlah pelan-pelan
Suara falsmu akan terdengar merdu, sepertinya
Ingat..
Pelan-pelan saja
Resapi
Dan rasakan rembesan darah serupa airmata
Menetes
Mencari makna
Mengeja luka
Bukan..
Bukan luka siapa-siapa
Nikmati saja,
Ya?!
_lebahkecil_
Refleksi Gelap
Dalam gelap, di sudut pekat,
Aku; adalah segala yang tak tampak
Jangan ragukan layar
Jangan menuduh rindu
Aku
Padaku
Melumat siksa
dari perkara
cinta yang tak terbaca.
_lebahkecil_
15 September
Tentang malam yang menyulam getar cinta..
Pada jarak kiloan meter
Di 15 Sepetember;
Dua pasang mata minus itu saling mendamba
Mengait jari dalam dimensi
Imajinasi, berjanji
Tuk saling menjaga
dan menyayangi (lagi)
Hari sesak dengan rindu
Rindu sesak menggebu-gebu
Semoga saja tak lekas berlalu
Dua pasang mata minus itu
Kita; Aku dan Kamu
_lebahkecil_
Yatim
Desah ini yatim..tanpa adamu
Di lubang surga yang acap kujaga
Darinya meleleh sperma serupa airmata
Engkau di mana?
Desah ini menagih senggama
_lebahkecil_
Cukupkan saja di situ..
Di punggung senja yang renta,
Aku melukis kisah tentang kita..
Di hotel murah kelas kamboja;
Jangan nyalakan lampu itu!
Cahayanya mengingatkanku pada kandang anak ayam
Silau
Aku tidak ingin kau lihat garis selulit yang melingkar di pahaku
Cukupkan saja di situ..
Di garis siluet yang melayang di dinding kamar
Samar..
Sampai hilang dalam pejam,
dan erang kenikmatan.
_lebahkecil_
10/10/14
Dear Life..
menyapa pagi yang menua bersamaku. beriringan kami memasuki masa dimana
cermin menjadi musuh nyata. menikmati era kedewasaan yang ternyata terasa
sangat membingungkan dan sedikit membosankan. sesekali aku dan pagi berbincang
tentang menu masakan hari ini, atau saling mencibir lipatan lemak yang asik
diam di perut, bokong, dan paha kami, sambil menyecap teh hijau tawar hangat
yang kami 'yakini' dapat sedikit mengikis tumpukan lemak. sering juga aku dan
pagi berdiskusi serius tentang 'partner of life' dan 'calon anak' yang akan
kami lahirkan kelak, sambil asik menikmati Anthony Hamilton bernyanyi 'Dear
Life'.
lagi..aku senyumi pagi yang bijaksana. bersamanya aku menua..
_lebahkecil_
09/10/14
Minggu Itu Ini, fariz..
sudah lama kuberpikir bahwa semua hari adalah minggu. tapi ternyata bukan.
minggu itu adalah 28 september 2014 pukul 03:00 wib. ia lahir di stasiun kota jakarta..
turun dari kereta gaya baru malam yang ditarik dari gubeng surabaya.
minggu itu adalah saat kamu datang, farizz.
minggu itu adalah saat pandangan mata kita bertemu. saat kukecup punggung tanganmu. saat kutemani kamu makan soto tangkar di kota tua. minggu itu adalah saat taxi yang membawa kita kena razia yusdisia.
hahahahaaa..
minggu itu adalah bau kecut badanmu, wajah letihmu, dan mata kita yang mengantuk tapi tetap saja terjaga.
minggu itu adalah sarapan pertama kita.
adalah jalan-jalan kita ke bina ria (ancol).
adalah pertama kalinya kamu naik bus trans jakarta. minggu itu adalah cincin dengan ukiran inisial kita..
--------------------------------------------- kemudian
aku adalah tangan yang menggandengmu saat menyeberang jalan..dan kamu adalah tangan yang mengelus kepalaku pelan..mengusap pipiku..menggandeng pundakku..menggenggam tanganku.
kita adalah kamu yang tak tahan dengan bawelku. adalah aku yang tak suka dengan plinplanmu.
kita adalah kamu yang butuh tegasku, adalah aku yang butuh sabarmu.
kita adalah sebutuh itu. sesederhana itu.
--------------------------------------------- kemudian
i don't like monday!!
kamu tahu kenapa?
karena dia membawamu pulang kembali ke kandungan.
--------------------------------------------- kemudian
aku benci 30 S!!
bukan soal tragedi PKI.
tapi soal malam yang putus dan kutangisi.
03 oktober ----------------- kamu ingin kembali (lagi)
04 oktober ----------------- Aku menerimamu (lagi)
~ lebahkecil ~
minggu itu adalah 28 september 2014 pukul 03:00 wib. ia lahir di stasiun kota jakarta..
turun dari kereta gaya baru malam yang ditarik dari gubeng surabaya.
minggu itu adalah saat kamu datang, farizz.
minggu itu adalah saat pandangan mata kita bertemu. saat kukecup punggung tanganmu. saat kutemani kamu makan soto tangkar di kota tua. minggu itu adalah saat taxi yang membawa kita kena razia yusdisia.
hahahahaaa..
minggu itu adalah bau kecut badanmu, wajah letihmu, dan mata kita yang mengantuk tapi tetap saja terjaga.
minggu itu adalah sarapan pertama kita.
adalah jalan-jalan kita ke bina ria (ancol).
adalah pertama kalinya kamu naik bus trans jakarta. minggu itu adalah cincin dengan ukiran inisial kita..
--------------------------------------------- kemudian
aku adalah tangan yang menggandengmu saat menyeberang jalan..dan kamu adalah tangan yang mengelus kepalaku pelan..mengusap pipiku..menggandeng pundakku..menggenggam tanganku.
kita adalah kamu yang tak tahan dengan bawelku. adalah aku yang tak suka dengan plinplanmu.
kita adalah kamu yang butuh tegasku, adalah aku yang butuh sabarmu.
kita adalah sebutuh itu. sesederhana itu.
--------------------------------------------- kemudian
i don't like monday!!
kamu tahu kenapa?
karena dia membawamu pulang kembali ke kandungan.
--------------------------------------------- kemudian
aku benci 30 S!!
bukan soal tragedi PKI.
tapi soal malam yang putus dan kutangisi.
03 oktober ----------------- kamu ingin kembali (lagi)
04 oktober ----------------- Aku menerimamu (lagi)
~ lebahkecil ~
Dapur
Aku di sini saja, menunggumu
Di dapur yang kita sepakati sebagai ruang terjujur di rumah
ini
Ruang yang kita tahu tentang ke-apa adanya
Bahwa asin adalah asin, pedas adalah pedas, manis adalah
manis, gurih adalah gurih
Yang berbeda tapi sangat bisa disatukan
Ruang yang memungkinkanku meramu puluhan menu cinta
Yang membuatmu jatuh cinta
Yang di dalamnya kita bisa bercinta
_lebahkecil_
Dari Balik Jendela Bertirai Merah
Sore tadi selepas adzan
Matahari bergeser dari beranda tempatmu berada
Menyisakan sedikit bayangan di belakang tubuhmu yang
berjalan
Masuk ke dalam rumah meninggalkan segelas kopi dan sebuah
buku
Di atas bangku panjang dari rotan
Sementara di seberang rumah dari balik jendela bertirai
merah
Aku mengintipmu dengan senyuman yang merekah
Tanpa malu kubaca setiap bahasa yang keluar dari gerak
tubuhmu
Yang biasa saja tapi terlihat sempurna
Setidaknya di mataku
Sepasang mata minus yang selalu mengagumimu
Sedari dulu
Besok..seperti sore ini
Aku ingin mengintipmu lagi
Dari balik jendela bertirai merah ini
_lebahkecil_
Langganan:
Postingan (Atom)