03/08/13

Jatuh, patah, lalu Badai..

tadinya kupikir, untuk menulis itu butuh kemampuan super ekstra. kemampuan berpikir dan berimajinasi lebih dari yang lainnya. tapi ternyata tidak juga. ada kondisi dimana kita bisa menjadi mahir bertutur dalam aksara. ketika kita sedang jatuhcinta atau patahhati, misalnya. dua perasaan ini bersifat megah hingga mampu membuat siapapun menjadi pujangga dadakan yang selalu ingin menumpahkan tiap rasa dalam tulisan. perasaan jatuhcinta membuat pandangan kita melulu indah. gejolak rasa berjuta bunga seperti menggelegak lalu tumpah ruah dalam bahagia. mungkin ini sebab kenapa cinta disebut buta, meski sebenarnya tidak. cinta hanya melumpuhkan logika kita.

jatuhcinta selalu mampu membawa kita pada kondisi serupa dongeng cinderella. dimana kekuatan cinta dan bantuan peri mampu mengalahkan kejahatan ibu dan dua saudara tirinya. tapi bagaimana jika dalam dongeng cinderella ada orang ketiga yang kecantikan dan kebaikannya melebihi kebaikan dan kecantikan cinderella, hingga sang pangeran rela membagi cintanya? apakah akhir bahagia akan tetap menjadi milik cinderella, atau kah milik orang ketiga? kemungkinan-kemungkinan ini yang kadang terabaikan oleh kita, karena kita terpaku pada plot cerita yang ada. lalu ketika kemungkinan yang terabaikan itu menimpa kita, kita lalu menyalahkan cinta. marah, kecewa, menghinadina, dan berhenti percaya. inilah egoisnya kita.

tidak ada satu orangpun dari kita yang tahu kapan cinta datang. tapi ketika dia datang, dia akan masuk ke dalam hati kita dan membuat kita berada di bawah kontrolnya. kedatangannya membawa rasa bahagia dan merana. ketika bahagia itu hilang, tinggallah kita berdiam dengan merana. dan ketika kemudian merana perlahan ikutan menghilang, cinta tetaplah cinta dan kita bisa menjadi kemungkinan-kemungkinan. mungkin kita akan kembali jatuhcinta, mungkin kita akan memilih bermain cinta, atau mungkin saja kita menjadi paranoid sinis yang berkata.."persetan dengan cinta!".

lalu badai datang..memporakporandakan keberlangsungan hidup kita. dan lagi-lagi keegoisan kita menyalahkan cinta. meski sebenarnya hati patah kitalah yang membuat hidup serupa dalam badai, bukan cinta.
cinta tidak akan pernah mati, kita yang mati. cinta tidak pernah gagap, karena itulah kita mampu menjadi pujangga dalam sekejap. Jatuh pada cinta lalu Patah karena cinta tidak seharusnya membuat kita mengundang Badai datang ke kehidupan kita. yang perlu kita lakukan hanya bersiap dengan segala kemungkinan. berani??



_lebahkecil_



Tidak ada komentar:

Posting Komentar