Ada yang sempat tak tercatat di awal pagi-pagi sekali. Ketika dingin menusuk kulit hingga tulang dan gelap mendekap senyap dalam ruang persegi berdinding tembok setengah lembab. Secuil sapa hadir lewat sisa kesadaran yang hampir raib buah ciu, sopi atau apapun namanya di sebuah tempat di seberang pulau milik para dewa. Keramahan yang nyaris kumatikan dalam tiap inci pengharapan. Sekuatnya kutindas gede rasa yang coba menyeruak masuk menjajah hati. Tidak! Tidak akan lagi kuijinkan dia bersandiwara dalam kesaruhan. Cukuplah kegamangan ini menyandera sedikit kecerdasannya logika. Tak ingin ramahku menjadi petaka bagi sekeping hati yang nelangsa. Maka ini acuhku. Catatan ini yang sempat tak tercatat. Jika aktifku mengacaukan rasamu, maka pahamkan aku dengan pasifmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar