kamu..sang pujangga.
diammu sungguh menyayat sukma lebih dari elegi.
membinasakan tiap detik penantian menyeru kabar.
hangus..
terbakar..
mengerut seluruh rinai yang menggelembung di sudut pandang.
kamu..sang kapiten.
bicaramu seperti derap serdadu menjajah biduk harapan yang gersang.
panas..
kering..
kerontang..
rayuan nakal terdengar sumbang tanpa titik koma dan seringai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar