apa kabar anakku nanti?
aku bahkan tidak tahu kapan dia akan lahir, tapi aku dalam benakku selalu menanyakan apa kabarnya. seringkali aku berpikir tentang pendidikannya, kesehatannya, perkembangan, dan masa depannya nanti. bagaimana kepribadiaannya? akan kah dia seperti aku bundanya? ahh..kuharap dia akan jauh lebih baik dariku. harus.
apa kabar anakku nanti?
ada kekhawatiran di relung hatiku yang terdalam, mengingat semakin carutmarutnya gaya hidup dan betapa abuabunya dunia pendidikan jaman sekarang. ahh..bagaimana nantinya?? akan kah carutmarut itu menjadi amburadul? apakah abuabu itu akan semakin kelabu? miris..hingga sering kali aku meringis nyaris menangis.
dan ini tanggungjawabku.
apa kabar anakku nanti?
sungguh ini ketakutan teramatku bila dia menjadi apa yang cak nun bilang itu "generasi Kempong".
generasi yang tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. tak tahu apa itu ironi, sarkasme, sanepan, istidraj..generasi yang sangat rentan terhadap apa saja, termasuk informasi..tidak ada etos kerja. tidak ada ideologi dharma, atau falya’mal ‘amalan shalihan..yang dipunyai hanya obsesi hasil, khayal kepemilikan dan kenikmatan.
dan ini tanggungjawabku.
apa kabar anakku nanti?
semoga dia bisa mencintai buku dan membacanya, mencintai pena dan menulis. semoga dia tidak malas romantis karena takut disebut galau. tidak malas peduli karena takut disebut kepo. tidak malas mendetil karena takut disebut rempong. tidak malas berpendapat karena takut dikira curhat. tidak malas mengubah-ubah point of view karena takut disebut labil. semoga..
dan ini tanggungjawabku.
_lebahkecil_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar