07/06/13

Cinta Pena

dulu, ketika jaringan internet belum mendunia, surat menyurat, bertukar kartu pos, mengucapkan selamat ulang tahun dan hari raya selalu dilakukan melalui media pos. kantor pos & giro serupa mall yang banyak dikunjungi orang. perasaan dag dig dug selalu hadir ketika kita menunggu pak pos datang. perangko seperti menjadi barang mewah yang harus kita simpan tuk koleksi atau sekedar kenang-kenangan. ada komunikasi yang menyenangkan dan ucapan terima kasih tuk pak pos bersama senyuman yang mengembang. tapi sekarang budaya ini hilang, seperti raib tergilas jaman. tidak ada proses-proses seperti ini lagi. proses dimana kita bisa belajar menulis tangan, belajar melipat surat, belajar bersabar menanti balasan, belajar berkomunikasi, belajar berterima kasih. hilang..

dan aku, tidak ingin proses-proses itu hilang dari kita. iya, kita. aku dan kamu.
kita memang baru saja memulai. belajar menyusun baris demi baris kalimat dalam keterbatasan jarak dan pandang. tapi kita punya cukup ruang tuk belajar. mengulang dan terus mengulang, catatan demi catatan cermin pemikiran.

ini bukanlah tentang bagaimana rupaku, bagaimana dirimu. ini tentang dua jiwa yang seiya sekata tuk belajar bersama. tentang satu hati yang jatuh pada pemikiran dan satu hati yang terpikat pada pemahaman. jiwa itu kita. hati itu kita. iya, kita. bukan siapa-siapa.



_lebahkecil_ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar