"lalu apa?" tanya pagi pada hati.
semburat merah tiba-tiba mewarnai pipi yang pias kedinginan.
"entahlah. aku tidak tahu. bahkan tuk berpikirpun aku kewalahan". jawab hatiku pelan.
"ohh..jangan! kamu jangan berpikir. biarkan otakmu yang melakukan itu. kamu hanya harus merasakan, cuma itu". teriak pagi mengejutkan.
"lalu apa yang kamu rasakan?". tanya pagi lagi. kali ini dengan suara parau.
"aku merasa sedih..gelisah. aku juga merasa bodoh karena kepekaanku nyaris mati rasa, hingga inspirasi enggan menjamah". jawab hatiku sembari merintih.
ada kedukaan yang teramat dalam dan air mata yang nyaris menetes.
pagi tersenyum seraya menatap lembut ke arahku. dapat kulihat dia mengedipkan mata pada mentari dan angin yang lewat, seolah memberi tanda.
benar saja..mentari lalu meninggi dan bersinar lebih benderang. angin berhembus lembut membisikkan kehangatan. seketika dingin beranjak membawa serta pias pada pipiku yang lunak.
"hapus sedihmu. tenangkan dia. jangan merasa bodoh karena kamu tidak bodoh. otakmu lah yang bodoh karena terlalu malas berpikir. pekamu tidak mati rasa..buktinya kamu merasa sedih dan gelisah. iya kan?" ujar pagi lembut.
seperti tersihir aku mengangguk. tanganku seketika meraih secarik kertas dan pena, lalu mulai menulis..
dear pagi..
terima kasih untuk kebaikanmu.
untuk kesetiaanmu membangunkan ku dari gelapnya malam.
untuk kesabaranmu mengajarkan ku tentang kejujuran.
dan mengingatkan ku tuk selalu bersyukur pada tuhan.
terima kasih, pagi. datanglah lagi esok hari.
with love,
inspirasi termiskin.
_lebahkecil_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar