Hujan yang tak kuharapkan ini datang bersamamu
Membawa serta setumpuk duka yang tak selesai kau ceritakan
Sore tadi di telepon
“bonus gratisanku habis. Nanti malam aku ke rumahmu ya..”
Katamu lewat sebuah pesan
Aku enggan, tapi tak tega kusampaikan
Di tanganmu kulihat sekotak martabak dalam plastik yang
basah
Seperti halnya jaket jeans yang membungkus tubuhmu pun basah
Ahh..aku benci melihatnya
Benci melihat rambut gondrongmu yang tergerai menutup hampir
separuh wajah
Selepek itu pun kamu nampak mempesona
“kenapa tidak kau bunuh aku saja!” jeritku dalam dada
Sekarang kita duduk bersampingan
Mulutmu tak henti bercerita tentang pengkhianatan Alika
Bagaimana dia telah membuat hatimu terluka
Seperti halnya dua gelas teh panas dan sekotak martabak yang
tak lagi hangat
aku pasrah saja mendengar kau bercerita
meski dengan perasaan yang tersiksa
ingin rasanya kubungkam mulutmu paksa dan bicara
“aku juga terluka! Lebih terluka dari apa yang membuatmu
terluka!
Aku mencintaimu dan harus melihatmu mencintai wanita lain
yang tak mencintaimu juga!”
Tapi keberanian itu tak pernah ada
Aku berharap hujan ini reda
Sekarang juga
Biar bisa kupersilahkan kamu pulang bersama pengkhiatan
Alika
Dan segala pesona yang kau punya
Biar bisa kubenahi semua remah yang kau cipta secepatnya
Aku ingin hujan ini reda
Sekarang juga.
_lebahkecil_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar